
KUPANG – Masa depan literasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah berada di tangan generasi muda yang kreatif dan berakar pada lokalitas. Dalam dialog “Tamu Malam” di RRI Pro 2 Kupang (19/02), Saddam HP, seorang penulis dan anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora, membagikan pandangannya mengenai pentingnya buku dan sastra bagi kaum muda di NTT.
Ketertarikan Saddam terhadap sastra bermula dari tradisi mendongeng di keluarganya, yang kemudian berkembang menjadi minat serius saat ia menempuh pendidikan di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi Kupang pada tahun 2006 hingga 2010. Lingkungan seminari yang akrab dengan buku dan perpustakaan menjadi ekosistem awal yang memupuk bakat menulisnya.
Pencapaian besar pertamanya terjadi pada tahun 2018 ketika puisinya yang berjudul “Komuni” berhasil diterbitkan di harian nasional Kompas. Puisi tersebut merefleksikan spiritualitas dan pencarian diri yang mendalam, dengan metafora-metafora yang diangkut dari khazanah Katolik.
Saddam aktif dalam Komunitas Sastra Dusun Flobamora, sebuah wadah bagi penulis, pembaca, dan penyuka sastra di Kota Kupang yang berdiri pada 19 Februari 2011.
Untuk mengatasi kendala penerbitan karya penulis lokal, komunitas ini mendirikan lini penerbitan pada tahun 2018. Hingga tahun 2026, penerbit ini telah melahirkan sekitar 50 hingga 60 judul buku dari berbagai penulis di NTT.
Selain puisi, Saddam kini fokus pada penulisan cerita anak yang berbasis kearifan lokal, khususnya budaya Malaka. Judul terakhir yang diterbitkan Dusun Flobamora adalah Asa Ai Sorun.
Buku tersebut ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Tetun dan bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan agar anak-anak di pelosok NTT tetap merasa akrab dengan budaya mereka sendiri dan tidak merasa asing dengan bacaan yang mereka konsumsi.
Menurut Saddam, kondisi literasi di NTT saat ini sudah cukup baik namun belum ideal. Tantangan terbesar masih terletak pada ketersebaran buku fisik hingga ke pelosok daerah dan bagaimana buku tersebut diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah.
Meskipun teknologi digital menawarkan peluang besar untuk mengakses bacaan dunia, Saddam menekankan bahwa esensi membaca adalah tentang “kesunyian”—sebuah momen refleksi yang seringkali hilang di tengah hiruk-pikuk media sosial.
Sebagai penutup, Saddam memberikan pesan kuat bagi anak muda yang ingin terjun ke dunia literasi:
“Kita semua tidak dipanggil untuk menjadi penulis, tetapi kita semua harus menjadi pembaca yang setia dan tekun.”
Saat ini, Saddam tengah mempersiapkan proyek terbarunya, sebuah kumpulan puisi bertema kematian dan harapan yang berjudul Mencari Jalan Pulang.


