
Dua anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Eugenia R. Lun dan Eufrasia K. Samin, menjadi kontributor dalam salah satu bab buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT. Buku tersebut diterbitkan pada Januari 2026 oleh Penerbit Kanisius dan Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mencatat torehan kinerja, tantangan dan harapan yang dikumandangkan selama setahun pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johanis Asadoma. Buku ini diluncurkan pada 9 April 2026 di Aula Utama El Tari, Oebobo, Kota Kupang.
Berdasarkan siaran pers yang dirilis Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT melalui akun Facebook resmi lembaga, peluncuran buku tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur NTT, dan ditutup oleh Gubernur NTT. Peluncuran ditandai dengan diskusi dan testimoni dari sejumlah tokoh seperti Ketua DPRD NTT, Emelia J. Nomleni, Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Flori Rita Wuisan, dan Guru Besar Bidang Tata Kelola Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Gabriel Lele.
Rudi Rohi, editor buku, dalam pengantarnya mengungkapkan bahwa buku Asa dan Rasa merupakan instrumen untuk melihat janji dan harapan sudah mulai bergerak menuju kenyataan atau justru sebaliknya.
“Refleksi terbuka dari berbagai kalangan yang digalang secara cepat dan acak dalam tulisan ini memberikan gambaran nyata bahwasanya jarak antara janji dan harapan politik menjadi nyata atau justru tidak bergerak saling mendekat, bahkan makin jauh asa daripada rasa. Oleh karena itu, uraian reflektif dalam buku ini berdasarkan pengakuan sejumlah kalangan coba meletakkan secara berurutan refleksi atas Quick Wins dan Tujuh Pilar Pembangunan yang ditawarkan dan dijalankan Melki-Johni agar sidang pembaca dapat melihat dan menilai sendiri,” tulis pengamat politik sekaligus dosen Ilmu Politik di Universitas Nusa Cendana tersebut.
Eugenia dan Eufrasia menjadi kontributor bab X dengan judul “Pameran Peradaban, Jelajah Keindahan Entete”, bersama Frederik C.P. Koenunu dan Fulgensio Nailopo. Meskipun tulisan keduanya diikat menjadi satu bab bersama tulisan kontributor lain, Eugenia dan Eufrasia mengisahkan keterlibatan Komunitas Sastra Dusun Flobamora dalam Pameran Pembangunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa tenggara Timur pada 2025.
Keduanya membuka tulisan dengan menggugat istilah “pembangunan” yang sering tereduksi menjadi semata urusan infrastruktur, dan menariknya kepada pembangunan peradaban manusia yang melibatkan pengetahuan, pengalaman dan tradisi. Keterlibatan komunitas literasi seperti Dusun Flobamora dalam Pameran Pembangunan, menurut keduanya, menjadikan pemerintah secara sadar mengakui bahwa pikiran, ide dan narasi adalah kekayaan dan rekam jejak peradaban sebuah daerah.
“Penempatan buku dalam pameran pembangunan NTT adalah langkah strategis untuk memanusiakan pembangunan itu sendiri. Buku-buku menjadi penanda bahwa NTT tidak hanya ingin maju secara material, tetapi juga ingin bertumbuh secara spiritual dan intelektual. Literasi lokal adalah fondasi yang memastikan bahwa kemajuan fisik yang dicapai tidak akan kehilangan akarnya,” tulis keduanya.
Eugenia dan Eufrasia berharap agar penerbit lokal seperti Dusun Flobamora dan sejumlah penerbit lain di NTT terus dilibatkan dalam pameran-pameran selanjutnya. Menurut mereka, pameran pembangunan tidak hanya menunjukkan capaian keberhasilan ekonomi dan infrastruktur fisik, tetapi juga menjadi etalase bagi perkembangan gagasan anak-anak NTT yang direkam dalam buku-buku yang diterbitkan penerbit-penerbit lokal seperti Dusun Flobamora.
Eugenia R. Lun dan Eufrasia Samin mulai terlibat dalam kegiatan Dusun Flobamora sejak pameran Mereka Kota, sebagai bagian dari kegiatan internasional Jakarta International Literary Festival 2022. Sejak saat itu, keduanya aktif dalam berbagai aktivitas komunitas, termasuk diskusi buku Toko Buku Terakhir yang menghadirkan Dirjen IKP Kementerian Kominfo RI Usman Kansong, sampai rangkaian Festival Sastra Santarang 2023—2025, perayaan sastra nasional tahunan yang diselenggarakan di Kota Kupang.
Dalam prolognya, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menegaskan bahwa buku ini adalah upaya “membaca diri” secara jujur. Ia menjelaskan bahwa Asa mencerminkan harapan kolektif rakyat, sementara Rasa merepresentasikan pengalaman nyata masyarakat atas kebijakan yang dijalankan.
“Pembangunan bukan hanya soal capaian angka, tetapi tentang bagaimana kebijakan dirasakan dan direspons oleh masyarakat. Forum ini adalah ruang koreksi dan pengayaan,” ujar Johni.
Sebagai penutup, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan terima kasih atas segala kritik yang masuk. Ia mengibaratkan kepemimpinan di NTT saat ini seperti Via Dolorosa atau jalan penderitaan yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
“Kami tidak punya waktu untuk mengeluh. Buku ini adalah bagian dari upaya kami membangun budaya literasi dan transparansi. Kami ingin gagasan diperdebatkan secara sehat agar tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya,” tutup Melki.
Adapun sebagian besar isi buku tersebut dikerjakan oleh para Aparatur Sipil Negara Pemerintah Provinsi NTT, dengan sejumlah kecil penulis eksternal seperti Eugenia dan Eufrasia.


