Mone Ama: Sebuah Tinjauan Teologis tentang Peran Dewan Pemimpin Adat terhadap Kehidupan Petani di Liae, Rai Hawu
Rp85.000
Penulis: Paoina Bara Pa
Penyunting: Mario F. Lawi
Foto Sampul: Christian Dan Dadi
Cetakan Pertama, 2026
xii + 108 hlm., 13 x 19 cm
Catatan tentang Mone Ama juga merupakan narasi tentang kemandirian dan martabat. Di Sabu, prinsip menikmati apa yang diusahakan adalah hukum tak tertulis yang dijunjung tinggi. Prinsip tersebut merupakan kebalikan dari mentalitas ketergantungan pada bantuan sosial yang sering kali melemahkan daya juang masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.
Meskipun ditulis pada akhir 1980-an, buku ini mengingatkan kita bahwa jawaban atas krisis kepemimpinan dan kerusakan lingkungan mungkin bisa kita temukan kembali pada cara-cara yang diturunkan leluhur. Pemerintahan tradisional seperti yang dijalankan para Mone Ama di Liae setidaknya menunjukkan bahwa pemerintahan yang baik adalah yang mampu menyatukan dimensi horizontal (manusia dan alam) dengan dimensi vertikal (manusia dan Pencipta).
Di tengah dunia yang kian bising dengan perebutan kekuasaan, kearifan lokal dari Liae, Sabu Raijua, mengajak kita untuk kembali tenang, bekerja dengan tangan sendiri, menjaga alam, dan senantiasa bersyukur. Inilah kompas bagi masa depan yang bisa kita tarik dari masa lalu, dari tradisi, dari hal-hal yang ditinggalkan leluhur.






