KUPANG, 15 April 2026 – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Kupang menggelar diskusi mendalam mengenai karya sastra kontemporer pada Rabu (15/4). Diskusi kali ini membedah kumpulan cerpen Jasad sang Pelacur dan Pemakaman Keduanya karya Christian Dan Dadi (Dusun Flobamora, 2025). Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas ini merupakan bagian dari materi mata kuliah Keterampilan Menulis Sastra yang diampu oleh Siti Hajar, M.Pd. Diskusi ini dirancang sebagai agenda mingguan agar mahasiswa terbiasa membedah teks dan menangkap esensi cerita sebelum mereka terjun langsung dalam aktivitas menulis kreatif.
Fokus utama diskusi seri pertama ini adalah cerpen berjudul “Si Cantik Maisaroh”. Selama lebih dari satu jam, suasana kelas tampak hidup dengan berbagai tanggapan kritis dari para mahasiswa.
Beberapa poin krusial yang menjadi bahan perdebatan hangat antara lain:
- Karakter La Karuda: Peserta menyoroti sifat tokoh ini yang dinilai egois dan memiliki ambisi untuk selalu terlihat lebih unggul dibandingkan warga kampung lainnya.
- Kritik Pernikahan Anak: Banyak mahasiswa mengecam keputusan orang tua Maisaroh yang menikahkan putrinya dengan pria tua beristri tiga. Hal ini dinilai sebagai praktik pernikahan usia dini yang tidak sah di mata hukum negara.
- Perlindungan Anak Berkebutuhan Khusus: Sosok Maisaroh yang digambarkan memiliki gangguan berpikir (intelektual) memicu simpati peserta. Diskusi menyimpulkan bahwa memaksakan pernikahan pada individu dengan kondisi tersebut dapat memicu gangguan psikologis yang lebih dalam.
Meskipun mayoritas mengkritik, sebagian peserta melihat sudut pandang lain, yakni upaya orang tua Maisaroh yang (meskipun keliru secara hukum) bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi masa depan anaknya di tengah lingkungan sosial mereka.

Selain konten sosial, teknik penulisan Christian Dan Dadi juga mendapat apresiasi. Penulis dinilai berhasil mengeksplorasi realitas masyarakat pesisir dengan narasi yang terjaga. Melalui teknik telling, narator mampu membimbing pembaca secara sabar melalui kalimat-kalimat yang padat, tepat, namun tetap disisipi unsur jenaka.
“Diskusi cerpen ini memberikan amanat penting bahwa konsep keadilan bagi anak berkebutuhan khusus adalah tidak memaksakan mereka ke dalam lembaga pernikahan. Orang tua sebagai pemegang kuasa seharusnya memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan diri,” demikian salah satu poin kesimpulan diskusi tersebut.
Buku Jasad sang Pelacur dan Pemakaman Keduanya bukanlah karya baru di kancah sastra nasional. Sebelum didiskusikan di lingkungan kampus UM Kupang, buku ini telah lebih dulu dipresentasikan di ajang bergengsi Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 yang berlangsung di Benteng Fort Rotterdam, Sulawesi Selatan pada akhir Mei 2025, dengan dihadiri oleh berbagai penulis dan penerbit ternama tanah air.
Dengan adanya diskusi rutin seperti ini, diharapkan mahasiswa PBSI UM Kupang tidak hanya mahir secara teori, tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan ketajaman berpikir dalam menghasilkan karya sastra yang relevan dengan realitas sosial.


